GERAKAN gemar membaca perlu digencarkan kembali karena fakta menunjukkan minat baca orang Indonesia terus mengalami penurunan secara signifikan.

Hal tersebut dikemukakan Deputi Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Perpustakaan Nasional, Woro Titi Haryanti pada Seminar Nasional Gerakan Pemuda Indonesia Membaca di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (5/3).

Seminar tersebut diikuti 400 orang peserta terdiri dari perwakilan sejumlah perguruan tinggi, perwakilan siswa dari 50 SMA sederajat di Kota Surakarta, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan perwakilan organisasi kepemudaan.

Woro memaparkan, berdasarkan hasil kajian Perpustakaan Nasional pada 2015 di 12 provinsi dan 28 kabupaten/kota nilai budaya baca berada pada peringkat rendah. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan parameter frekuensi membaca per minggu, waktu membaca, jumlah halaman, dan alokasi dana untuk membeli buku.

“Sekarang ini dana untuk membeli buku kalah jauh dibandingkan dana untuk membeli pulsa,” katanya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, budaya dan minat baca orang Indonesia tertinggal sangat jauh. Rata-rata orang Amerika membaca 20-25 buku per tahun dan Jepang 10-15 buku per tahun. Sementara rata-rata orang Indonesia hanya 0-1 buku per tahun.

Woro menambahkan, untuk kembali meningkatkan minat baca masyarakat Perpustakaan Nasional terus menciptakan berbagai program. Selain terus memperbaiki infrastruktur dan fasilitas serta layanan perpustakaan, juga dengan menggelar beragam kegiatan. Salah satunya adalah safari gerakan nasional membaca di provinsi dan kabupaten.

Dalam kesempatan tersebut, Woro juga menyampaikan apresiasinya terobosan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang mengeluarkan surat edaran agar siswa meluangkan waktu 15 menit untuk membaca sebelum jam pelajaran dimulai.

“Kami berharap perpustakaan, taman baca dan taman-taman cerdas di berbagai daerah berkembang dan menjadi wahana ilmu untuk membentuk generasi cerdas,” jelasnya. (OL-2)

SUMBER : http://mediaindonesia.com/