Makassar – Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) membuka peluang bagi setiap perpustakaan konvensional untuk mulai membangun koleksi bahan perpustakaan digital untuk dilayankan kepada pemustaka. Teknologi jaringan juga membuka peluang bagi perpustakaan untuk memanfaatkan bersama sumber informasi digital yang dimiliki, yaitu dengan menyediakan akses bagi perpustakaan lain ke koleksi digital miliknya dan sebaliknya. Dengan demikian peluang suatu perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka semakin besar. Peralihan dari tahap pengembangan koleksi digital yang berdiri sendiri ke tahap pengembangan jejaring ‘perpustakaan digital’ untuk pemanfaatan bersama sumber informasi yang dimiliki tentunya bukan proses yang sederhana. Salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam proses pengembangan jejaring perpustakaan digital adalah peralihan generasi pengguna dari digital immigrants ke digital natives.  Hal inilah yang menjadi dasar Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia mengambil tema “Transformasi Perpustakaan Digital Di Era Digital Native” pada konferensi ke-9 (KPDI 9) tahun 2016 ini di Singgasana Hotel Makassar Sulawesi Selatan (8/11 – 11/11).

Dalam sambutannya Rektor UIN Alauddin Makassar, Musafir Pababbari menerangkan bahwa Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-9 sebagai ajang bertukar pikiran dalam segala aspek dan informasi tentang perpustakaan digital. “Perkembangan teknologi di bidang perpustakaan sudah menjadi kebutuhan terutama dalam kemudahan akses dalam mencari informasi, sehingga pustakawan harus memiliki kompetensi yang baik, seperti kemampuan manajemen informasi, kecakapan interpersonal, keterampilan teknologi informasi, kualitas pelayanan dan sense of belonging,” terangnya.

Kepala Perpustakaan Nasional RI Syarif Bando menekankan pada kata kunci dalam kegiatan KPDI 9 adalah bagaimana komunitas perpustakaan dan pustakawan indonesia bisa membangun suatu kekuatan agar bisa memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi pemustaka. Secara yuridis dalam Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki Perpustakaan Nasional yang mengatur perpustakaan dari pusat hingga desa. Dalam kesempatan tersebut juga diselenggarakan MoU antar Universitas di Indonesia dengan Perpustakaan Nasional untuk membangun jaringan perpustakaan. Sayarif Bando menerangkan menurut data dan fakta budaya baca di Indonesia sangat tinggi, parameter sederhana yang dapat dilihat adalah di Indonesia satu-satunya negara yang terdapat puluhan aksara daerah. Lanjut Syarif Bando, permasalahan fundamental yang dihadapi saat ini di Indonesia yaitu kesenjangan dalam mengakses informasi yaitu buku, fasilitas internet, dll. Dalam manifesto IFLA-UNESCO mengamanatkan bahwa seluruh perpustakaan yang ada di seluruh dunia berperan dalam meningkatkan sumber daya manusia dengan sumber informasi yang terbaru. “Oleh karena itu melalui kerjasama dengan berbagai perpustakaan yang ada di Indonesia digunakan untuk membangun jaringan perpustakaan yang terhimpun melalui Onesearch agar masyarakat dapat mudah memperoleh informasi yang up to date dan lengkap,” terangnya.

Sambutan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yahsin Limpo yang dibacakan Asisten IV Bidang Administrasi Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Ruslan Abu menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan mengarah kepada upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan perpustakaan berbasis teknologi melalui digitalisasi perpustakaan. Perpustakaan adalah parameter keberhasilan sebuah negeri.  Sulawesi Selatan tepatnya di Makassar memiliki peranan penting dalam perkembangan perpustakaaan di Indonesia yaitu menjadi tempat terselenggaranya kerjasama perpustakaan perguruan tinggi pertama kali di Indonesia  pada tahun 1976. Pada kesempatan yang sama dalam acara KPDI 9 tahun 2016 yang juga terselenggara di Makassar merupakan momentum berharga atas dibentuknya Forum Perpustakaan Digital untuk pertama kalinya.

Acara KPDI 9 didahului melalui kegiatan workshop mengenai Indonesia OneSearch, iPusnas, INLISLite, Budaya Literasi dan Literasi Budaya Masyarakat Digital, Sinergitas Pustakawan dan Pemustaka dalam Transformasi Layanan Digital dilanjutkan dengan Penandatanganan MoU antara Perpustakaan Nasional RI dan Lembaga Mitra. Pada hari yang sama dengan pembukaan juga terdapat sesi kebijakan yang menghadirkan Muhammad Asri Anas (Badan Anggaran MPR RI), Ismail Cawidu (Staf Ahli Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika), Phil. Kamaruddin Amin (Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Laksana Tri Handoko (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI) dengan moderator Zainal A. Hasibuan.

Pada hari berikutnya disampaikan paparan dari para pemakalah yang dibagi menjadi empat topik, yaitu: Topik 1 Transisi Perpustakaan Dari Digital Imigrant Ke Digital Native, Topik 2 Perubahan Paradigma Pemanfaatan Perpustakaan, Topik 3 Perubahan Orientasi Perpustakaan: Go Mobile, Go Social dan Individual Focus, Topik 4 Ekstensifikasi Layanan Perpustakaan Digital Melalui Cloud Computing. Sebagai penutup acara juga para peserta KPDI 9 melakukan tour wisata ke Makassar dan Toraja untuk mengenal kebudayaan setempat yang unik, indah dan mempesona.

Sumber: http://www.perpusnas.go.id/?p=23926